Salah satu wujud dari ego adalah dengan terus mengingat-ingat kebaikan yang sudah pernah dilakukan. Sebenarnya, tak ada salahnya mengingat sesekali kebaikan yang pernah dilakukan. Namun, bila terus dilakukan mungkin kebaikan tersebut akan berubah menjadi pamrih bahkan kemungkinan menjadi sifat UJUB

Selayaknya kita menyadari bahwa yang namanya  kebaikan kita terhadap orang lain, sesungguhnya bukanlah kita berbuat baik kepada mereka  melainkan Allah-lah yang berbuat, dan kita dipilih menjadi jalan kebaikan Allah itu berwujud.  Maka penting kiranya berbuat baik harus dilandasi dengan konsep KEIKHLASAN dan tanpa pamrih berbuat hanya untuk lillahi Ta’ala, Tentunya kita tak ingin, keikhlasan yang ada di dalam hati kita ternodai dan bahkan terkotori. Dan hal yang dapat kita lakukan untuk menjaga keikhlasan adalah dengan menghapus sifat ‘ujub itu dari dalam hati, membuangnya jauh-jauh tanpa tersisa.

Janganlah engkau jadikan pujian atau celaan orang lain sebagai sebab engkau beramal saleh, karena hal tersebut bukanlah termasuk perbuatan ikhlas. Seorang mukmin yang ikhlas adalah seorang yang tidak terpengaruh oleh pujian maupun celaan manusia ketika ia beramal saleh. Ketika ia mengetahui bahwa dirinya dipuji karena beramal sholeh, maka tidaklah pujian tersebut kecuali hanya akan membuat ia semakin tawadhu (rendah diri) kepada Allah. Ia pun menyadari bahwa pujian tersebut merupakan fitnah (ujian) baginya, sehingga ia pun berdoa kepada Allah untuk menyelamatkannya dari fitnah tersebut. tidak ada pujian yang dapat bermanfaat bagimu maupun celaan yang dapat membahayakanmu kecuali apabila kesemuanya itu berasal dari Allah.Manakah yang akan kita pilih, dipuji manusia namun Allah mencela kita, ataukah dicela manusia namun Allah memuji kita ?

Jangan terbius oleh pujian manusia atas kebaikan kita terhadap orang lain, apalagi kita terus bersifat ujub merasa lebih dari siapapun, mengutip amanah yang disampaikan KH. Hasan Abdullah Sahal beliau berpesan: agar menghindari PERASAAN MERASA LEBIH, MERASA PALING, merasa PALING BESAR, merasa PALING TINGGI, merasa PALING KUAT, merasa PALING KAYA, PALING MAJU, PALING TAHU, PALING BISA, PALING MAMPU merasa PALING BERJASA, juga merasa PALING “SATU-SATUNYA”, merasa PALING BERHAK, dan seterusnya. Beliau juga mengingatkan bahwa, “TIDAK BERBUDI ORANG YANG TIDAK TAHU BUDI, TIDAK BERBUDI ORANG-ORANG YANG MENGHARAP BALAS BUDI”.